Bali Darma Laksana, Kaum Pemuda Nasionalis di Bali Tahun 1930an

ayobali

Perkumpulan Bali Darma Laksana menjadi sebuah perhimpunan kaum nasionalis Bali pada masa kolonial Belanda yang memperjuangkan  dan menanamkan kesadaran agar masyarakat Bali tidak membiarkan wanita di desa-desa bertelanjang dada yang akan dapat merendahkan derajat serta kepribadian masyarakat Bali. Para wanita yang bertelanjang dada sering  dijadikan sasaran pemotretan oleh wisatawan asing yang berkunjung ke Bali,  sebagai akibat dari dibukanya  ruang Bali sebagai destinasi pariwisata oleh pemerintah kolonial Belanda
Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Paradigma Kepariwisataan Bali Tahun 1930-an: Studi Genealogi Kepariwisataan Budaya” yang dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Bali Volume 06, nomor 02 tahun 2016. Artikel tersebut ditulis oleh I Made Sendra dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Made Sendra menuliskan perkumpulan Bali Darma Laksana dijadikan sebagai wadah untuk menghimpun kaum pemuda nasionalis di Bali untuk bersatu memajukan (modernisasi) masyarakat dan kebudayaan Bali sesuai dengan perkembangan zaman. Guna memajukan masyarakat Bali, organisasi Bali Darma Laksana menyusun program kerja di bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan melalui gerakan penyuluhan ke desa-desa.

Karena organisasi ini tidak bersifat politik maka pemerintah kolonial Belanda mengizinkan organisasi ini berkembang, sehingga mendapatkan dukungan dari pegawai pamong praja, dan pemuda pelajar di seluruh Bali. Pilihan soft strategy ini diterapkan, karena jika dilakukan perlawanan secara terbuka akan segera direpresi dan dibrangus oleh pemerintah kolonial Belanda

Organisasi ini merupakan fusi dari Balische Studiefond yang berdiri di Singaraja dengan perkumpulan Eka Laksana di Denpasar. Organisasi ini bergerak di bidang sosial, pendidikan, agama dan adat istiadat. Dalam bidang pendidikan organisasi ini memberikan tunjangan belajar bagi anggota-anggotanya. Tunjangan ini diberikan kepada pemuda Bali yang mempunyai cukup kepandaian dan berguna bagi masyarakat BaliBali Darma Laksanamerupakan gerakan pemuda yang berhaluan nasionalis yang menentang konservatisme tradisi, adat dan budaya yang dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk melanggengkan kekuasaannya di Bali.
Tokoh-tokoh antiwacana kolonial terdiri dari para elite (kaum cendekiawan Bali) yang baru lulus dari sekolah-sekolah di Jawa yang berfaham modern. Para cendekiawan (elite) pribumi yang lulus dari sekolah Belanda dididik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan posisi administrasi kolonial Belanda.

Namun, mereka tidak bisa secara terang-terangan menentang wacana kolonialis, karena kuatnya kontrol kuasa penjajah (pemerintah kolonial) untuk melakukan kontrol terhadap munculnya wacana anti kolonial.

Mereka yang anti wacana kolonial memilih strategi lunak (soft strategy) untuk menandingi wacana Baliseering dengan mendirikan organisasi yang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan budaya.

Komentar